Seruling Sriwijaya ( A Novel)

Chapter 1

A Bird Song
(Kicauan Burung)

Pa’ lin fong, June 16, 1375. A.D
Shih li fo chi/ San Fo Tsi (Sriwijaya Kingdom)
Sunrise…

Pagi hari….suara nyaring kokok ayam jantan dan kicauan burung ramai bersahutan menyambut terbitnya sang mentari di ufuk timur. Lembayung jingga sangat indah di kaki langit Sriwijaya. Sungai Musi nampak bagai sungai yang terbuat dari emas berkilauan, atap-atap rumah panggung dan rumah-rumah rakit yang terbuat dari daun nipah di sepanjang tepian sungai juga berkilau ketika sinar sang mentari menerpa perlahan. Para penduduk kota memulai aktifitasnya, keramaian pasar terapung mulai menggeliat dari sejak sebelum terbitnya sang mentari. Perahu-perahu dayung, bidar-bidar panjang para saudagar dan patroli pasukan kerajaan mulai bermunculan, kapal-kapal besar yang sepanjang malam bersandar disepanjang tepian sungai mulai mengembangkan layarnya untuk pergi melaut atau berdagang ke negeri-negeri seberang. Kota ini cukup ramai dan padat penduduknya sejak ia didirikan oleh Sri Dapunta Hyan Sri Jayanasa beberapa abad yang silam. Para biksu (pendeta Buddha) mulai berdatangan dan berkumpul ke tepian sungai sambil membaca mantra-mantra Buddhis dan membawa mangkuk-mangkuk derma serta tasbih dan lonceng-lonceng kecil terbuat dari perunggu dan kuningan. Mereka berpakaian jubah berwarna kuning dan jingga. Kepala mereka botak dengan beberapa bintik putih yang menandakan mereka sudah menempa ilmu dan ajaran Sang Buddha selama bertahun-tahun dengan seksama. Ada pula murid-murid pemula yang berpakaian jubah serba putih dan abu-abu, sedangkan rambut mereka bergelung keatas dan tidak dicukur menandakan mereka baru belajar agama dan mereka adalah murid tingkat dasar. Tetua biksu datang dengan diiringi beberapa biksu yang sudah cukup berumur sambil memegang tasbih dan mangkuk derma dengan mulut komat-kamit membaca lantunan ayat-ayat suci Tripitaka. Mereka mengambil tempat persis didepan barisan biksu-biksu muda dan murid-murid pemula.
Tak lama kemudian terdengar suara barisan pasukan berkuda kerajaan berderap dengan teratur dan seirama, mereka tak lain adalah pasukan pengawal Sri Baginda Maharaja Parameswara Raja Diraja Datuk Sriwijaya, dibelakang mereka berbaris ratusan bahkan ribuan prajurit bersenjatakan tombak dan keris juga tameng, mereka berpakaian serba merah dengan pernak-perniknya serta baju zirah terbuat dari besi berlapis emas juga baju rantai (chainmail) didalamnya,menyusul ratusan prajurit bersenjatakan pedang dan tameng yang berbaris sangat rapi dan gagah, dibelakang mereka menyusul barisan para pemusik dan penari yang membawa peralatan musik berupa gong, seruling, gendang dan gamelan, lalu para penari cantik mulai menari sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya diiringi suara alunan musik. Para penduduk kota juga sudah ramai berdatangan memenuhi sepanjang tepian sungai, mereka tahu bahwa hari ini adalah hari jadi kota dan kemahsyuran kedatuan Sriwijaya. Mereka dikejutkan oleh suara lengkingan gajah dan tidak salah lagi jauh dibelakang barisan prajurit bersenjata pedang dan tameng juga dibelakang barisan para pemusik dan penari, berbarislah 20 ekor gajah yang diatasnya duduk para menteri dan penasehat Kedatuan masing-masing didampingi oleh selir-selir yang elok dan cantik rupawan, tidak jauh dari barisan 20 ekor gajah, disitulah Sri Baginda Maharaja Parameswara Raja Diraja Datuk Sriwijaya duduk dengan gagahnya diatas seekor gajah putih berukuran paling besar diantara gajah-gajah yang lainnya. Sri Maharaja berpakaian kuning keemasan dengan gelung rambut yang indah dan perhiasan emas seperti kalung, gelang tangan, gelang kaki, mahkota dan tali pinggangnya. Beliau didampingi permaisurinya yang sangat cantik jelita dan elok rupawan bagai Dewi Rembulan. Sri Maharaja Parameswara pun sangat elok rupanya bagai Dewa Surya yang berkilauan. Kemudian Sri Maharaja turun dari tunggangannya berserta Sang Permaisurinya setelah para punggawa dan pelayan membawakan tangga terbuat dari emas, sedangkan para pawang gajah mencoba menenangkan gajah putih tunggangan Sri Maharaja. Para tamu dari negeri-negeri taklukan dan tamu-tamu dari Bhumi Jawa (JawaDwipa) telah hadir dengan mengenakan pakaian serba indah dengan pernak-perniknya yang terbuat dari emas dan perak. Sri Maharaja dan Permaisuri berjalan menuju podium yang telah disediakan dengan langkah yang mantap sambil mendongakkan kepala tanpa menoleh kepada para tamu dan ribuan penduduk yang hadir. Para tamu, biksu, prajurit, para pemusik dan penari serta penduduk serempak membungkuk sambil melipat kedua tangan didada mereka sebagai tanda penghormatan kepada Sri Maharaja Parameswara yang gagah perkasa dan berwibawa.

Lalu Sri Maharaja berdiri di podium dengan tangan terlipat menyilang didada beliau berkata : “Swastee…Semoga Sang Gautama memberkati seluruh negeri Kedatuan Sriwijaya nan agung dan permai bersama seluruh negeri yang menghamba kepadaKu. Swastee…Jayalah Sriwijaya! Jaya bersama Sang Gautama! Jaya Siddhayatra! Wahai seluruh rakyatKu, para prajuritKu yang gagah perkasa, para menteri dan punggawa-punggawaKu, para pemusik dan penariKu, Adinda Permaisuriku dan selir-selirKu, tukang KebunKu, para pencuci pakaianKu, pengawal istanaKu, para ksatria pengembara, petani, nelayan dan para pelaut serta saudagar-saudagar sekalian. Hendaklah kalian semua mengabdi kepadaKu dan tunduk kepada hukum-hukumKu, mengabdi kepada Kedatuan Sriwijaya yang saudara-saudara sekalian telah mengetahui sejarah berdirinya Kedatuan ini oleh nenek moyang kita. Yang Maha Agung Sri Dapunta Hyan Sri Jayanasa pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Waisakha tahun 604 Saka ketika beliau memulai Siddhayatra dan berangkat dari Minana Tamwan pada tanggal 7 Suklapaksa bulan Jyestha membawa dua laksa pasukan berserta perbekalan sebanyak 200 peti dengan perahu dan sebagian berjalan didaratan dengan bersusah payah melalui berbagai rintangan dan cobaan yang maha berat tapi akhirnya beliau dan para prajurit nan setia berhasil menaklukan daerah-daerah yang diabaikan oleh para Dewa termasuk Mukha Upang dan mendirikan Wanua pada tanggal 5 paro terang bulan Asadha yang kita kenal saat ini telah menjadi pusat Kedatuan Sriwijaya kita yang tercinta yang tercatat dalam prasasti yang dipahat oleh Mpu nan sakti di Kedukan Bukit nan suci. Semoga Sang Buddha Gautama memberkati jiwanya serta jiwa para prajurit dan para Mpu di Nirwana. Semoga Sang Buddha Gautama dan para dewa melindungi negeri Swarna Bhumi seluruhnya. Mari kita semua berseru, Jayalah Sriwijaya! Jayalah Siddhayatra!”

Semua orang yang berada di tepian sungai bersorak gembira dengan tepuk tangan riuh, dan mereka berkata: “Swastee…Jayalah Sriwijaya! Jaya Siddhayatra! Sang Buddha Gautama bersama kita semua!” kemudian tetua biksu maju ke depan sambil membunyikan lonceng dan membaca mantera-mantera doa untuk kesejahteraan Kedatuan Sriwijaya. Serempak ratusan murid-murid dan biksu-biksu muda turut melantunkan mantera-mantera doa bagi Sang Buddha Gautama. Para Prajurit berkuda membentuk barisan tiga banjar sambil mengangkat panji-panji Kedatuan Sriwijaya dan bersorak :
” Jayalah Sriwijaya!” Sedangkan para prajurit bersenjatakan tombak dan tameng memukul-mukulkan alas tombak mereka yang panjang ke tanah sambil bersorak : “Jayalah Sriwijaya! Mulia Datuk Sri Maharaja Parameswara. Sang Buddha Gautama memberkati senantiasa!”. Para pemusik kembali memainkan alunan musik disertai lenggak-lenggok para penari. Para menteri dan punggawa juga para adipati pun tak kalah memberikan tepuk tangan yang riuh sehingga seluruh tepian sungai menjadi bising dengan suara sorak sorai dan tepuk tangan. Semua orang yang berada didalam kapal-kapal dan bidar-bidar juga perahu-perahu kajang yang ramai berlalu lalang dipermukaan sungai juga turut memberikan sorak sorai dan tepuk tangan riuh ikut memeriahkan suasana.
Ditengah keramaian tersebut nampak sesosok pemuda sederhana dengan pakaian yang kumal dan sedikit compang-camping, pemuda itu sangat kurus dan kurang gizi tapi memiliki sorot mata yang tajam dan semangat untuk bertahan hidup. Pemuda itu tentu saja memiliki nama, kita sebut saja dia dengan nama Mahesa Sambadra. Usianya tidak lebih dari 22 tahun. Dia hanyalah seorang pemuda dari keluarga nelayan miskin, dia bekerja dengan ayahnya mencari ikan dan udang disepanjang aliran sungai Musi hingga ke muara dan lautan. Ibunya adalah seorang pembuat kain tapi tak seorangpun yang bersedia membeli kain buatannya karena mereka menganggap kain itu tidak bermutu. Sungguh malang nasib keluarga Mahesa. Tapi penderitaan itu seakan lenyap sesaat ketika dia berdiri ditengah kerumunan orang banyak menyaksikan pawai dan iring-iringan para biksu, barisan pasukan berkuda, para prajurit, adipati-adipati, para menteri dan punggawa, para pemusik dan penari serta selir-selir raja yang mengenakan pakaian sangat indah dipandang mata. Dia juga ikut bersorak sorai dan tertawa riang sehingga gigi-giginya yang kuning nampak berkilau. Dia membayangkan jadi seorang prajurit yang berbaris didepan iring-iringan Sri Baginda Maharaja Datuk Parameswara, mengenakan baju zirah terbuat dari perunggu berlapis emas dan membawa senjata tombak, keris dan tameng juga helm perunggu berlapis emas. Sungguh gagah penampilan dalam khayalannya. Tapi khayalannya itu buyar dan lenyap ketika ada seorang berteriak memanggil namanya, dia sangat mengenal suara itu yang tak lain adalah ayahandanya. “Mahesa!…Ayo kita segera pergi mencari ikan. Hari sudah mulai siang dan jangan lupa bawakan jaring dan pancing yang ayah gantungkan dibatang pohon pinang tadi malam. Cepatlah jangan malas! Hari sudah siang!” Mahesa segera mengambil jaring dan pancing atas perintah ayahandanya itu dan menyusul kedalam perahu kajang yang bersandar disebuah dermaga kayu kecil ditepian sungai Musi. Kemudian perahu kajang itu mulai bergerak ketika Mahesa dan ayahnya mendayung perlahan setelah melepaskan tali perahu yang sejak semalam terikat disebuah batang kayu disamping dermaga kecil itu. Mahesa melihat kerumunan orang banyak mulai menghilang perlahan dari pandangannya begitu juga sosok Baginda Sri Maharaja Parameswara yang masih berdiri di atas podium sambil berpidato kepada seluruh rakyatnya yang berada disepanjang tepian sungai Musi.
Mahesa kembali dalam khayalannya sambil terus mendayung perahu kajang bersama ayahandanya menuju muara sungai untuk mencari ikan dan udang buat kebutuhan hidup mereka. “Hoi Mahes…janganlah suka melamun! Awas nanti kau tercampakkan ke sungai dan dimakan buaya. Ayahanda akan payah menolong kau nanti! Jadi pemuda jangan banyak melamun, itu tidak baik!” Mahesa terkejut dan berkata, “ Oh…maafkan aku ayahanda. Aku tidaklah melamun hanya melihat ke Baginda Sri Maharaja Parameswara dan bala tentaranya saja. Ayahanda…aku nak jadi tentara Sri baginda. Alangkah gagah dan perwiranya aku nanti Ayah. Aku berharap ayahanda mengijinkan aku untuk menjadi tentara pengawal Sri Baginda. Berilah aku ijin Ayahanda…aku mohon.” Ayahanda terdiam sesaat lalu tertawa,
“Hahaahahahahaa….kau nak jadi tentara Sri Baginda? Coba kau lihat dirimu…kau hanya budak seorang nelayan miskin dan tubuhmu sangat kurus, mana mungkin kau dapat jadi tentara Sri Baginda yang gagah perkasa. Kau pikir jadi tentara itu mudah? Mahes…cobalah kau pikir dan jangan banyak melamun.” Mahesa tertunduk sedih mendengar perkataan ayahandanya itu sambil terus mendayung perahu ke arah muara sungai. Hatinya sangat pilu karena dia tahu perkataan ayahandanya tadi benar. Dia sadar kalau dirinya hanya seorang nelayan miskin dan kurus seperti ayahandanya. Beberapa lama kemudian sampailah mereka di muara sungai. Mahesa dan ayahandanya segera membuka gulungan jaring dan melemparkannya kedalam sungai lalu mengikat ujung talinya di haluan perahu. Kemudian ayahanda memasang umpan pada pancing lalu melemparkan kesisi lain sungai dan mengikat batang pancingnya didalam perahu.
Para pembaca yang budiman ada baiknya kita tinggalkan sejenak tokoh muda kita itu dalam mencari ikan bersama ayahandanya dan kembali ke Sri Baginda Maharaja Parameswara yang masih berdiri diatas podium berpidato ditengah kerumunan ribuan orang dan ribuan bala tentaranya sekitar lima kilometer jauhnya kearah barat dari Mahesa dan ayahandanya berada.
“Wahai Rakyatku semuanya, waspadalah kalian terhadap semua daerah dan negeri-negeri yang mulai menampakkan pembangkangan dan niat jahatnya kepada Kedatuan Sriwijaya berserta Swarna Bhumi seluruhnya. Semoga Sang Buddha Gautama dan para Dewa menjaga dan menolong kita semua. Mari kita tingkatkan persatuan diantara seluruh daerah dan negeri kita. Na mo amitovo…..Jaya Siddhayatra”
Sri Baginda Maharaja Sriwijaya mengangkat kedua tangannya keatas lalu mengepalkan kedua tinjunya sehingga semua orang tertegun dan saling berpandangan sambil bertanya dalam hati, “ Mengapa Sri Baginda mengangkat kedua tangannya lalu mengepalkan tinju ke langit?.”
Setelah selesai berpidato Sri Baginda Maharaja turun dari podium dan menyalami semua menteri, adipati, para punggawa dan para perwira juga para demang sambil berkata, “Tingkatkan kewaspadaan dan buka mata lebar-lebar. Karena menurut ramalan para Mpu nan sakti akan ada marabahaya yang mengancam dari utara, selatan dan timur negeri kita. Tingkatkan penjagaan disetiap perbatasan, rekrut para pemuda pemberani untuk menjadi bala tentara kita. Waspadalah terhadap semua bentuk ancaman.”
Lalu Sri Baginda melantik beberapa kadet perwira dan mengangkat jabatan beberapa orang punggawa dan adipati, disertai riuhnya tepuk tangan dan ucapan terima kasih juga pujian dari mereka untuk Sri Baginda.

Beberapa saat kemudian Sri Baginda Maharaja Parameswara Datuk Sriwijaya dan Permaisurinya kembali menuju Gajah Putih yang telah disiapkan oleh para pawang dan menaikinya. Para jenderal dan perwira pun kembali menaiki kuda mereka dan memberi isyarat kepada seluruh pasukan untuk berbaris meninggalkan lapangan ditepian sungai. Ratusan prajurit berkuda dan ribuan prajurit berjalan kaki berbaris dengan sangat rapi diikuti oleh iringan para pemusik dan penari lalu diikuti para punggawa dan adipati, rombongan gajah para menteri kemudian gajah putih tunggangan Sri Baginda Maharaja meninggalkan tepian sungai menuju dermaga tempat bersandarnya kapal-kapal besar milik Kedatuan Sriwijaya untuk membawa rombongan Sri Baginda kembali ke Istananya di seberang Ilir sungai Musi.

Beberapa jam setelah itu…Mahesa dan ayahandanya yang sedang memancing dan menjaring ikan di muara sungai telah mendapatkan banyak sekali tangkapan berupa ikan dan udang kecil juga aneka kerang dan siput sungai. Burung-burung bangau dan pelikan juga belibis ramai memenuhi sepanjang tepian sungai yang ditumbuhi pohon bakau dan nipah mencari ikan dan udang. Mahesa mendengar suara kicauan burung kutilang dan gelatik yang terdengar merdu bagai suara nyanyian para malaikat. Mahesa juga melihat rombongan monyet yang berlarian diantara akar-akar pohon bakau dan nipah. Dia merasakan dirinya sedang berada didalam taman nirwana dengan angin yang sejuk berhembus dan dedaunan yang sangat rindang dan hijau disertai suara percikan air sungai yang mendamaikan hatinya. Senja pun tiba, sang mentari lelah menemani dewi bumi lalu pelan-pelan turun ke peraduannya. Meninggalkan jejak cahaya jingga dikaki langit Sriwijaya…Mahesa dan ayahandanya mendayung perahu menuju rumahnya ditepian sungai Musi tak jauh dari pusat kota yang terletak diantara kanal-kanal kuno yang dibuat oleh para pendahulu mereka ratusan tahun yang silam.

Menjelang malam mereka sudah tiba dirumah, disambut oleh ibunda yang membawakan lentera kertas yang didalamnya terdapat sebuah lilin kecil yang menyala agak redup tapi cukup untuk menerangi mereka yang sedang mengumpulkan ikan dari dalam jaring dan menaruhnya kedalam bakul-bakul bambu. Sebagian ikan dan udang lalu disiangi dan dimasak oleh ibu untuk makan malam mereka, sebagian lagi untuk dijual dipasar terapung besok pagi. Mereka pun makan malam sambil mengobrol, setelah itu mereka pergi tidur.

Chapter 2
The Morning Floating Market
(Pasar Pagi Terapung)

Musi river side, June 17, 1375. A.D
Sriwijaya Kingdom
The Dawn…

Menjelang datangnya fajar hari masih gelap gulita tapi sebagian penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang mulai menyiapkan perlengkapan dan barang dagangannya, mereka masih menyalakan lentera diatas perahu-perahu dan kapal-kapal layar mereka. Sehingga terlihat bagai ratusan kunang-kunang di pagi dinihari dari seberang tepian sungai. Demikian pula keluarga Mahesa yang sejak tadi malam sudah menyiapkan sebagian besar ikan, udang dan siput sungai hasil tangkapan kemarin untuk dijual di pasar pagi terapung sekitar lima ratus meter dari rumah panggung mereka yang terletak ditepian muara kanal kuno yang menghadap ke sungai Musi. Mahesa dan ayahandanya dibantu oleh ibunda memasukkan bakul-bakul berisi ikan dan udang lalu memisahkan siput dan kerang sungai kedalam bakul-bakul yang lebih kecil, mereka berharap dapat mengais rejeki dari hasil tangkapan kemarin yang berlimpah. Setelah itu Mahesa dan ayahandanya mendayung perahu kearah pasar pagi terapung yang telah ramai oleh sampan-sampan dan bidar-bidar panjang serta kapal-kapal layar para pedagang yang sudah mengambil tempat dari sejak menjelang fajar. Para pembeli pun berdatangan dari daerah-daerah seberang sungai dengan menggunakan perahu-perahu kajang milik mereka ataupun perahu-perahu sewaan yang mengantarkan mereka untuk berbelanja.

Di pasar itu berkumpul banyak sekali orang dari berbagai suku dan negeri dengan berbagai macam bahasa yang mereka gunakan. Ada orang yang berasal dari Nalanda (Jambhu Dwipa, India), Gujarat, Arab, Persia, China, Jawa Dwipa, suku Bugis dan suku-suku pedalaman yang masih primitif dan tidak berpakaian, mereka hanya mengenakan cawat terbuat dari kulit kayu. Mereka juga datang membawakan barang dagangan berupa kayu manis, daun nipah, kayu nibung, rempah-rempah, hasil laut dan sungai juga minyak wangi dan minyak masak. Ratusan perahu, sampan, bidar dan kapal-kapal layar besar dan kecil tumpah ruah disepanjang sungai Musi. Hiruk pikuk para pedagang dan pembeli yang sedang bertransaksi sangat ramai di pagi dinihari itu.

Mahesa dan ayahandanya juga sibuk menawarkan ikan hasil tangkapan mereka kepada para calon pembeli, tidak lama kemudian datanglah sebuah sampan kecil yang berisikan lima orang didalamnya pelan-pelan mendekati perahunya dan mulai merapat diburitannya. Mahesa kurang memperhatikan kelima orang itu karena dia masih sibuk membungkusi ikan dengan daun pisang dan menawarkannya kepada para pembeli.

“Maaf…bolehkah kami melihat ikan-ikan dan udang dalam bakul itu?” terdengar suara seorang gadis berkata kepada Mahesa yang sedang memberikan ikan yang sudah dia bungkus dengan daun kepada seorang pembeli dari sebuah sampan yang merapat disamping perahunya. Sedangkan ayahandanya sedang menyiapkan bakul-bakul berisi ikan didalam kanopi yang terbuat dari daun nipah diperahu itu. Mahesa melihat kearah asal suara itu dan dia terpesona melihat pemandangan indah berupa tiga orang gadis cantik dengan pakaian yang indah terbuat dari sutra dan didampingi oleh dua orang pemuda yang mendayungi perahu mereka. Seorang gadis cantik berpakaian warna biru muda berkata, “Maaf saudara…bolehkah kami melihat ikan dan udang dalam bakul-bakul itu?” Mahesa pun berkata, “Oh…tentu saja boleh. Silahkan masuk kedalam perahu kami dan lihat isi bakul ini.” Dua orang gadis berpakaian hijau muda dan merah muda segera melompat kedalam perahu dan mulai memeriksa isi bakul-bakul tersebut memilih ikan serta udang yang mereka sukai sedangkan gadis berpakaian biru muda tidak ikut dan hanya duduk didalam perahunya saja. Mahesa bertanya kepada gadis itu,
“ Mengapa kamu tidak ikut masuk kedalam perahu kami? Bukankah kamu yang tadi bertanya kepadaku tentang isi bakul-bakul ini?”

Gadis muda berpakaian biru muda itu tidak menjawab dan hanya tersenyum kearah Mahesa sambil memandangi wajahnya yang kurus dengan pipi kempot dan matanya yang sayu. Mahesa berkata sambil menggelengkan kepalanya sedikit, “O…ya sudah kalau kamu tidak berkenan masuk kedalam perahu kami.” seorang gadis didalam perahu bertanya sambil menunjuk kearah sebuah bakul berisi ikan patin, “Berapa harga ikan ini? Boleh kami tahu pula berapa harga udang yang ada dalam bakul itu?” Mahesa menjawab, “O…harga ikan patin ini tidaklah mahal hanya sekepeng saja. Sedangkan harga udang yang didalam bakul itu lumayan mahal sekitar dua setengah kepeng karena kami sulit menangkap mereka dan sempat pula kami bertengkar dengan burung bangau dan belibis di muara sungai karena berebut udang.”
Dua orang gadis dalam kapal serempak tertawa mendengar kelakar Mahesa, tetapi gadis berpakaian biru muda tidak ikut tertawa dan hanya tersenyum saja menahan rasa geli karena kelakar Mahesa. Mahesa berbisik ke telinga seorang gadis yang berpakaian merah muda dan bertanya, “Siapakah dia? Mengapa dia tidak ikut tertawa bersama kalian? Padahal aku tahu dia pasti menahan geli mendengar kelakarku tadi.” Gadis berpakaian merah muda menjawab sambil berbisik pula, “Oh…dia itu adalah Yang Mulia Putri Bhupati seberang ulu yang akan dinikahkan dengan Yuvaraja Sang Putra Mahkota Kedatuan Sriwijaya satu bulan lagi dan dia akan menjalani pingitan pekan depan.” Mahesa bertanya lagi, “Siapakah nama dia?” Bolehkah aku tahu dimana rumah kalian?” Gadis berpakaian hijau muda yang sejak tadi memperhatikan mereka saling berbisik berkata, “Dia bernama Putri Cempaka, sedangkan aku bernama Putri Bunga Pandan dan dia yang berpakaian merah muda bernama Putri Sari”.”Bagus nian nama kalian. Perkenalkan namaku Mahesa Sambadra, kalian boleh memanggil namaku Mahesa”. Seorang pemuda pendayung berteriak kearah mereka, “Hoi!…mengapa pula kalian berbisik-bisik di perahu itu? Cepatlah kalian belanja karena matahari sudah terbit. Nanti Ayahanda akan marah kepada kalian dan kami akan kena hukuman!” Cepatlah kembali ke perahu!”

Mahesa segera membungkus dua ekor ikan patin berukuran sedang dan memasukkan beberapa ekor udang besar kedalam sehelai daun talas dan daun pisang. Lalu mengikat bungkusan itu dengan tali ijuk dan menyerahkan bungkusan itu kepada dua orang gadis yang memberikan beberapa uang kepeng kepadanya. Gadis berpakaian merah muda yang bernama Putri Sari itu berbisik ke telinga Mahesa, “Kalau kakak ingin datang berkunjung ke rumah kami maka datanglah ke seberang ulu di sebelah timur. Disanalah rumah kami berada. Datanglah sebelum Putri Cempaka menjalani pingitan pekan depan. Kami akan menunggu kakak. Datanglah kakak membawakan cinta kepada salah seorang dari kami.”
Kemudian mereka melompat kedalam perahu mereka dan dua orang pemuda pendayung mulai melepaskan tali perahu mereka yang diikat diburitan perahu Mahesa. Kedua orang Putri itu melambaikan tangan mereka kecuali Putri Cempaka yang masih duduk terdiam didalam perahunya. Pelan tapi pasti perahu mereka mulai menjauh dari perahu Mahesa dan dia hanya berdiri termangu sambil memandang kearah perahu berisikan tiga orang Putri cantik itu. Dia terpesona dengan kecantikan dan keelokan rupa mereka yang berkulit putih gading dan kuning langsat terawat, tapi hatinya tertuju kepada Putri Cempaka karena dia nampak lebih anggun dan memesona. Putri Cempaka merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Mahesa lalu menoleh kearahnya dan melihat sosok pemuda kurus dengan pakaian compang-camping dan bermata sayu tapi memiliki semangat untuk berjuang dan bertahan hidup ditengah masa yang sulit dan penuh kekerasan seperti saat ini dimana Kedatuan Sriwijaya sering mengalami krisis ekonomi akibat dari banyaknya peperangan dan pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah taklukan. Dia merasakan getaran aneh dalam hatinya dan dia menatap wajah Mahesa dari kejauhan yang masih menatapi dirinya. Putri Cempaka bertanya dalam hatinya sendiri, “Apakah kini aku sedang jatuh hati kepada pemuda kurus dan miskin itu? Mengapa ada getaran aneh yang merambat dalam hatiku? Apakah ini yang disebut dengan cinta?” Mahesa masih tetap saja berdiri memandangi perahu yang berisikan tiga bidadari itu meskipun sudah mulai menjauh dari pandangan matanya. Getaran aneh juga sedang merambat merasuki hatinya, dirinya bergetar dan dia menghembuskan nafas tersendat lalu bertanya kedalam hatinya,
“Mengapa aku menjadi seperti ini? Getaran aneh apakah yang sedang merasuki diriku? Apakah ini yang disebut dengan Cinta?” Mahesa terkejut ketika ayahandanya berteriak kearahnya “Hoi Mahes! Sudah ayahanda bilang janganlah suka melamun, tidak baik untuk pemuda seperti kamu! Payo kemari bantu ayah mengangkat bakul-bakul kosong kedalam. Jangan suka melamun!”. Mahesa segera membantu ayahandanya mengangkat bakul-bakul kosong kedalam kanopi daun nipah. Dagangan mereka sudah laris terjual dan mereka mendapatkan keuntungan yang lebih dari lumayan untuk hari ini, meskipun masih ada beberapa bakul berisi udang dan siput yang kurang laris terjual karena harganya yang cukup mahal tapi mereka bersyukur kepada para dewa terutama kepada Sang Buddha Gautama dan Dewa Awalokiteswara yang dianggap sebagai pelindung dan pembebas bagi jiwa-jiwa yang memujanya. Hari sudah mulai siang dan sang mentari sudah berada separuh tombak, para pedagang pasar pagi terapung satu persatu mulai pergi membawa keuntungannya masing-masing kembali kerumahnya yang berada di daerah-daerah seberang sungai.

Begitu pula dengan Mahesa dan ayahandanya, mendayung kembali kerumahnya dengan membawa keuntungan yang lumayan. Sesampainya didermaga kecil dekat rumah Mahesa turun dari perahu dan mengikat perahunya dengan tali ijuk yang kuat sedangkan ayahandanya mengangkati bakul-bakul kosong dari dalam kanopi daun nipah untuk diangkuti oleh Mahesa kedarat dan membawanya menuju kedalam rumah. Lalu ayahandanya menyusul sambil membawa bakul-bakul kecil berisi udang dan siput yang tidak terjual tadi pagi dan berkata, “Bundo, ini ada beberapa bakul kecil berisi udang dan siput yang kurang laris terjual lumayan buat makan siang kita nanti. Tolong dibantu”. Ibunda segera membantu ayahanda membawa bakul-bakul kecil itu dan mengeluarkan isinya lalu membersihkan bakul-bakul tersebut dengan air dan menyiangi udang serta siput-siput itu buat makan siang mereka. Mahesa masuk kedalam biliknya dan berbaring diatas dipan yang terbuat dari kayu dan bambu tanpa bantal.

Dia beristirahat dan teringat kembali kepada tiga orang putri didalam perahu itu. “Alangkah cantiknya mereka hingga bergetar hatiku dan Putri Cempaka sungguh memikat hati ini. Semoga Sang Buddha dan para dewa memberiku kekuatan untuk meminang dirinya dan meraih cintanya. Na mo amitovo…” Mahesa berdoa dan tertidur…
Beberapa jam kemudian dia terbangun dan teringat dengan perkataan Putri Bunga Pandan dan Putri Sari untuk datang ke rumah mereka disebelah timur seberang ulu. Dia sedang berpikir dan menunggu saat yang tepat untuk datang berkunjung kerumah mereka. Menunggu disaat ayahanda dan ibundanya sudah tidur lelap, setelah dirasanya keadaan sudah aman Mahesa pergi mengendap-endap dan berusaha agar setiap langkah kakinya tidak terdengar oleh kedua orang tuanya. Dibukanya pintu kayu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Sesampainya diluar pintu dia langsung menuruni tangga disamping rumah panggungnya dan pergi berlari kearah perahu yang sedang ditambatkan ditepi dermaga kecil tak jauh dari rumah panggungnya. Dia melepaskan tali ijuk yang melilit dibatang kayu dermaga dan masuk kedalam perahu lalu mendayungnya pelan-pelan kearah timur seberang ulu. Sudah beberapa puluh meter dilaluinya tanpa ketahuan kedua orang tuanya dan dilihatnya rumah panggung sudah semakin menjauh. Dia terus saja mendayung hingga rumah panggungnya benar-benar tidak terlihat lagi. Hari masih siang dan sinar mentari masih terang menyinari, hawa panas masih menyengat sehingga keringat pun mulai bercucuran dari dalam pori-pori kulitnya yang hitam dan Mahesa sadar kalau tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat yang bau. Tapi dia terus mendayung hingga melewati perkampungan suku Ogan yang sudah bermukim disitu sejak puluhan tahun silam, dia menyapa beberapa orang nelayan dan pedagang yang dikenalnya sepanjang perjalanan. Dia juga menyapa gadis-gadis yang sedang mencuci di tepian sungai dan menyapa para prajurit yang sedang berpatroli menggunakan bidar panjang di tengah sungai Musi. Hampir semua orang yang ditemui sepanjang perjalanan disapanya dengan ramah., termasuk para pedagang dari China, Arab, India, Bugis dan Jawa Dwipa yang sedikit mengerti bahasanya. Dia tidak perduli bila ada beberapa orang mengatainya gila atau kurang waras dari seberang tepian sungai. Mahesa terus mendayung hingga akhirnya sampailah dia disebelah timur seberang ulu, tidak terasa sudah lebih enam kilometer jalur sungai ditempuhnya hanya dengan mendayung.
Dia melihat sebuah rumah panggung yang sangat besar diatas sebuah bukit kecil ditepi sungai Musi dan berpikir,
“Apakah itu rumah kediaman mereka? Alangkah besaknya rumah itu dan tiada terbayang dalam benakku”.
Dia mendayung perlahan mendekati tepian bukit kecil itu dan menambatkan perahunya didermaga dekat rumah panggung besar itu bersama dengan perahu-perahu yang sudah ditambatkan dari sejak dulu. Dia menaiki tangga dermaga tanpa mengenakan alas kaki karena dia memang tidak pernah memakai alas kaki dari sejak kecil. Hatinya ragu apakah benar rumah panggung yang besar itu adalah rumah kediaman tiga orang putri cantik yang baru saja dikenalnya tadi pagi di pasar terapung. Dia berjalan mendekati rumah panggung besar dengan ragu-ragu dan melihat kehalaman rumah panggung itu, tapi keadaannya sepi tanpa seorang pun disekitarnya. “Ngapo sepi nian rumah ini caknya? Tiada seorangpun dihalaman rumah ini….” Dia terus mendekati rumah panggung tanpa menimbulkan suara karena dia sudah terbiasa. Diperiksanya keadaan sekeliling rumah itu tapi tak ada seorang pun yang terlihat. Dinaikinya tangga rumah panggung yang besar itu dan diperiksanya dengan seksama lalu diketuknya pintu kayu dengan tangannya yang terkepal. Terdengar suara dari dalam, “Hoi…siapakah itu yang diluar? Tidak tahukah kau kalau kami sedang beristirahat? Dasar orang tidak tahu sopan santun! Pergi kau atau kupanggilkan penjaga untuk mencampakkanmu kedasar sungai!” Mahesa menjawab dengan gemetar, “Oh…maafkan aku dan beribu-ribu maaf kumohonkan kepadamu Tuan. Aku akan segera pergi dari sini dan kumohon janganlah Tuan panggilkan penjaga untuk mencampakkan diriku ke dasar sungai karena aku takut dimakan buaya penghuni dasar sungai.” Tiba-tiba terdengar suara tawa yang pernah dikenalnya tadi pagi di pasar terapung, tidak salah lagi pemilik suara itu tidak lain adalah Putri Sari yang tadi pagi baru dikenalnya memakai pakaian berwarna merah muda, lalu terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah dan pintu kayu terbuka lebar. Mahesa langsung mengenali sosok yang muncul dari dalam pintu kayu itu, dialah Putri Sari dengan rambut panjang terurai sampai ke pinggangnya. Dia sudah berganti pakaian dengan kain putih dan selendang sutra berwarna ungu violet, dia nampak sangat cantik bila dibandingkan dengan penampilannya di pasar pagi terapung. “Selamat siang kak Mahesa, mengapa kakak berani datang sendiri kemari? Apakah kakak membawakan cinta untuk aku? Atau untuk Putri Bunga Pandan dan Putri Cempaka?”. Putri Sari berkata dengan senyuman menggoda. “Hmmmm….maafkan aku Tuan Putri Sari, aku tidak membawakan apa-apa kecuali…” Mahesa berkata dengan suara sedikit bergetar karena baru pertama kalinya dia mendapat tawaran cinta semacam itu dari seorang gadis muda yang sangat cantik dihadapannya. “Kecuali apa? Ayolah kak Mahes…aku tahu kakak membawakan cinta untukku. Benarkan?” Gadis itu semakin menggoda, “Maaf Tuan Putri…aku tidaklah pantas mendapatkan cinta dari seorang putri cantik seperti dirimu. Kamu tahu aku berasal dari keluarga nelayan yang miskin dan lihatlah pakaianku yang kumal dan compang-camping ini. Tuan Putri tidak pantas mendapatkan cinta dari orang seperti aku. Maafkan aku Tuan Putri.” “Sudahlah kak Mahes…janganlah merendahkan diri seperti itu. Aku akan tulus menyayangi dan menerima kakak dengan apa adanya”. Putri Sari merapatkan dirinya yang harum semerbak sehingga Mahes berada sangat dekat dengan Putri Sari. Muncul nalurinya sebagai lelaki untuk meraih pinggang Putri Sari yang ramping itu dan memeluknya erat tapi segera diurungkannya. Putri Sari melihat sikap Mahesa itu dan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Mahesa. Dia semakin menggoda iman Mahesa dengan meliuk-liukan tubuhnya bagai seorang penari yang elok dan mendekatkan bibirnya ke bibir Mahesa lalu menjauh dan mendekat lagi. Mahesa berdoa didalam hati agar dijauhkan dari godaan dunia yang sedang merangsang nalurinya ini,
“Na mo amitovo…Na mo amitovo. Wahai Sang Buddha Gautama dan Dewa Awalokiteswara lindungilah hamba ini dari dosa pandangan mata dan nafsu duniawi. Na mo amitovo…” tapi bau harum semerbak yang memancar dari pori-pori kulit gadis muda itu sudah merasuki otaknya setelah melewati indera penciumannya dan tanpa disadari Mahesa sudah melingkarkan lengannya yang kurus ke pinggul gadis muda yang sedang menggodanya itu. Bibirnya sudah mulai mendekati bibir sensual gadis muda yang telah dipeluknya erat lalu tiba-tiba terdengar suara berteriak, “Hentikan! Apa yang sedang kau lakukan Sari? Hentikan perbuatan asusila itu atau kulaporkan kau kepada ayahanda” sesosok tubuh ramping dan tinggi berjalan mendekati mereka dan ternyata sosok itu tak lain adalah Putri Cempaka yang tadi berteriak. “Sari seharusnya kau malu pada dirimu sendiri. Tidakkah kau mengingat semua ajaran Ayahanda dan para guru mengenai norma kesusilaan, sadarkah yang kau lakukan tadi sudah melanggar ajaran agama?” Mahesa dengan cepat melepaskan pelukannya dari pinggul Sari dan gadis muda itupun melepaskan diri dari pelukan Mahesa dengan wajah yang tersipu. “Maafkan aku wahai Tuan Putri Cempaka, aku tiada bermaksud melakukan perbuatan asusila tapi Tuan Putri Sari yang memulai lebih dulu. Semoga Sang Buddha Gautama mengampuni hamba. Na mo amitovo…”
Mahesa menjauhi tubuh Putri Sari dan bergegas hendak menuju kearah tangga tapi Putri Cempaka berkata, “Nak kemano kau hai pemuda? Ngapo kau hendak lari setelah kau nak lecehkan adikku?!” Mahesa terkejut mendengar perkataan Putri yang cantik itu dan berkata untuk membela diri, “Hai siapo nak lecehken adik kau? Cobalah kau tanyo dio dewek…diolah yang memulai, mak mano kau ini? Aku datang kesini itu kareno aku lah diundang samo adik kau tuh…Tanyolah ke dio…” Mahesa kesal karena dia dituduh melecehkan adik sang Putri. Sang Putri kemudian bertanya kepada adiknya, “Benarkah perkataan pemuda kurus itu wahai adinda? Mengapa kau undang pemuda bau dan kumal itu kerumah kita?” Putri Sari berkata, “Maafkan aku ayuk…aku idak sengaja mengundang dia kerumah kita sewaktu kita berbelanja ikan di pasar terapung tadi pagi…aku hanya tertarik kepada dia karena dia sopan, ramah dan lucu…mohon maafkan aku Ayuk…” Putri Cempaka berkata, “Sudahlah kali ini aku maafkan tapi lain kali jangan kau ulangi lagi perbuatan yang memalukan seperti itu lagi…mengerti?” Putri Sari tertunduk dengan wajah yang bersemu kemerahan, ia tidak berani menatap wajah ayuknya karena takut bercampur hormat dan segan. Mahesa berkata, “Aku datang kerumah ini karena aku hanya ingin bersahabat dengan kalian, itu saja. Kalau kalian tidak berkenan maka aku akan pulang kerumahku lalu tidur. Aku lah capek karena seharian kerja keras berdagang dan mencari ikan tapi apa yang kudapatkan hanyalah umpatan dan cacian dari seorang gadis jelita macam kau. Tidak kukira wajah kau cantik tapi bermulut kasar.” Sebenarnya Mahesa tidak tega berkata begitu didepan gadis-gadis cantik itu tapi dia juga tidak suka bila dirinya dikatakan sebagai seorang yang suka melecehkan perempuan dan harga dirinya begitu tinggi meskipun dia hanyalah seorang anak nelayan miskin.

Tapi toh akhirnya Mahesa mendapatkan tanggapan positif dari kedua gadis cantik itu ketika Putri Cempaka berkata, “Hai Pemuda, ternyata kau punya harga diri yang begitu membanggakan. Tak kukira seorang pemuda kumal macam kau mampu membela kehormatan diri, lagipula kau berani mendatangi rumah kami hanya seorang diri.” Mahesa tersenyum dan berkata, “Meskipun aku budak nelayan miskin tapi aku seorang lelaki yang punya harga diri, jadi bila ada orang yang berani menghina diriku dan keluargaku maka aku takkan segan untuk menujah…” Dia berkata sambil mengeluarkan sebilah pisau kecil yang terbungkus oleh kain gombel, yang sebenarnya hanya untuk menakuti dan menunjukkan kesejatian dirinya saja. Putri Sari dan Putri Cempaka terkejut dengan ulah Mahesa yang mengeluarkan sebilah pisau dari saku bajunya itu tapi mereka pura-pura menyembunyikan rasa takutnya dengan memberikan senyuman yang manis untuk dia. “Siapa nama kau? Baiklah bila kau ingin bersahabat dengan kami, mari masuklah kedalam rumah kami. Akan kusuruh pelayan membuatkan minuman dan makanan untuk kau. Kulihat kau nampak lemas karena lapar”, kata Putri Cempaka yang mengejutkan hati Mahesa. “Ngapo dio tau kalau aku belum makan?”, pikir Mahesa.

Setelah itu mereka bertiga masuklah kedalam ruangan rumah panggung yang besar dan luas itu, Mahesa tertegun karena melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya sejak dia lahir. Dia melihat aneka perabotan yang semuanya terbuat dari kayu damar dan guci-guci keramik cina yang diletakkan di setiap sudut ruangan begitu indah dan tertata rapi juga harum karena disalah satu sudut ruangan terdapat sebuah dupa yang mengepulkan asap kemenyan yang wangi. Rumah panggung itu memiliki banyak kamar yang dia tidak tahu milik siapa kamar-kamar tersebut, lalu Mahesa dipersilahkan duduk dilantai yang beralaskan karpet dari Persia berwarna biru lazuardi yang elok. Putri Cempaka memanggil para pelayan untuk datang dan menyuguhkan aneka jenis minuman serta makanan yang menimbulkan selera. Kemudian mereka bertiga bercakap-cakap sambil bercanda riang, tidak disangka mereka menjadi bertambah akrab sejak perkenalan mereka di pasar pagi terapung. Ketika mereka sedang bercakap-cakap datanglah seorang gadis yang wajahnya sangat dikenal oleh Mahesa. Ya dia itu Putri pandan Sari yang langsung menyapa mereka dan ikut menambah suasana keakraban dengan mendendangkan sebuah syair yang indah.

“Ang nang ca sang…sung su sun ga, mang la sa la…bu hu…a la ha, ang nang bu…ka lung bu, hu ba lu ha ba…la ngang bu…pun ba lu ha….( Untuk membuat seseorang mendapat kejayaan adalah berkat berjalan terus bersatu, menjadikan bersaji kepada yang dipuja…segala kesulitan membuat dan menjadikan perasaan tidak kacau…perasaan terang datang dari cahaya lubuk hati…telah menjadi lama tinggal ditempat terpencil juga mendatangkan perasaan terang)”

Beberapa lama setelah itu Mahesa merasa hari sudah mulai senja, dia berpamitan dengan ketiga gadis cantik itu. Dia merasa hatinya begitu senang karena dapat berkenalan dan bersahabat dengan putri-putri cantik itu. Tapi sebelum pulang Mahesa berkata, “Sebelum aku pulang kerumahku, bolehkah aku bertanya?” Putri Sari berkata, “Boleh…kakak mau nanya apa?” Mahesa menjawab, “Seharian ini aku belum bertemu dengan ayahanda dan ibunda kalian. Dimanakah mereka sekarang?” Putri Pandan Sari menjawab, “O…ayahanda dan ibunda kami sedang pergi ke Istana Sri Baginda untuk menghadiri undangan resmi karena ayahanda adalah seorang pejabat Bhupati didaerah ini. Mereka pergi dari sejak pagi setelah sarapan, mungkin mereka akan kembali nanti malam bersama para pengawal”
“Oh…cak itu? Ya sudah tidak apa-apa, maafkan aku karena telah lancang bertanya tentang kedua orang tua kalian. Kini aku pamit nak pulang kerumah karena rumahku jauh dari sini, aku takut ayahku marah dan mencampakkan diriku ke sungai. Semoga sang Gautama dan Dewa Awalokiteswara berkenan mempertemukan kita lagi dilain waktu.”
“Na mo amitovo…semoga para dewa mengijinkan” , kata Putri Cempaka dengan raut wajah agak sedih entah kenapa. Mahesa memperhatikannya dengan pura-pura tidak melihat, lalu dia melangkah meninggalkan ruangan tengah menuju ke pintu untuk turun kebawah dengan diantarkan oleh Putri Sari. Mahesa segera menuju ke perahunya, ternyata sungai sudah mulai pasang karena daratan yang tadi siang dipijaknya sudah tergenang oleh air sungai sehingga sungai Musi nampak semakin lebar. Dia tak lupa melambaikan tangannya kearah putri-putri cantik yang juga melambaikan tangan kearahnya. Dia melepaskan tali ijuk yang diikatnya disebuah tonggak kayu yang kini sudah terbenam kedalam sungai akibat pasang dan mulai mengayuhkan dayungnya meninggalkan rumah panggung yang besar itu menuju kearah rumahnya yang jauh disebelah barat tepian sungai Musi. Dia mengayuh dengan cepat karena takut dimarahi ayahandanya yang terkenal sangat keras dan disiplin dan berharap kedua orang tuanya tidak memarahinya. Dia terus mendayung dan semakin cepat meskipun dia sudah merasakan pegal pada kedua bahu dan lengannya, melewati perkampungan Ogan dan suku pedalaman juga melewati pos-pos penjagaan sungai tentara laut Sri Baginda, dia juga melewati permukiman orang cina yang tinggal dirumah-rumah rakit yang bisa berpindah-pindah, melintasi sungai Musi sambil menikmati sinar matahari senja yang hangat.
Sungai Musi nampak jingga keemasan sangat indah memesona, riak airnya gemericik. Disepanjang tepian sungai terlihat pemandangan para penduduk kampung yang sedang mandi dan mencuci, anak-anak kecil riang bermain dan berenang ditepian. Ada juga para pemancing yang mungkin sejak kemarin mereka berada didermaga-dermaga kecil atau menumpang mancing dipos-pos jaga tentara laut. Kapal-kapal dan perahu-perahu yang datang dan pergi melintasi sungai sambil membawa penumpang atau barang-barang dagangan dan hasil tangkapan menjadi pemandangan tersendiri yang menambah keindahan suasana senja di sungai emas. Kira-kira dua jam kemudian sampailah Mahesa dikanal kuno dimana kampung dan rumahnya berada. Mahesa merasa sangat letih karena mendayung seorang diri. Hatinya cemas takut diomeli dan dimarahi kedua orang tuanya. Dia mendayung dengan sangat hati-hati agar suara gemericik air sungai tidak terdengar jelas oleh ayahandanya. Sampailah dia ketepi sungai dekat rumahnya dan dia langsung mengikatkan tali ijuk ke tonggak kayu, lalu dia melompat keluar dari perahu dan masuk kedalam rumah panggungnya. Tapi kenapa rumahnya begitu sepi? Tidak ada ayahanda dan ibunda didalam rumah. Mahesa bertanya dalam hati, “Ay…ngapo pulo rumahku sepi cak ini? Mana ayahanda dan ibunda?”. Dia masuk keruangan dapur tapi tak ada ibunda disana, lalu dia mencari dibilik ayahnya tapi tak seorang pun disana. Seluruh ruangan nampak lengang. “Hmmm….mungkin ayahanda dan ibunda sedang pergi ke rumah tetangga. Aku nunggu dirumah bae…” , kata Mahesa sambil merebahkan dirinya diatas dipan kayu diruang kamarnya sendiri. Lalu Mahesa terlelap dan bermimpi.

Chapter 3
The King’s Palace
(Istana Raja)

Ilir Musi, June 17, 1375. A.D
Sriwijaya Kingdom
Full Moon…

Sesosok tubuh muda dan gagah perkasa sedang duduk sendiri dengan sikap bersemedi di pendapanya sambil melihat kelangit dimana bulan penuh sangat terang benderang. Pemuda itu mengenakan pakaian yang indah berwarna biru muda dengan gelung rambutnya yang diikat dengan tali yang terbuat dari lapisan emas bertatahkan beberapa buah permata yang berkilauan. Dia nampak sangat dewasa meskipun usianya baru delapan belas tahun, matanya coklat bening tetapi kosong menatap ke arah bulan purnama. Dia teringat akan perkataan kakeknya semasa dia masih kecil sebelum dia dinobatkan menjadi pemimpin agung dinegeri yang sedang mengalami perubahan akibat pergolakan dan konflik politik yang selalu saja merongrong dan menyulitkan kedudukannya sebagai seorang datuk atau raja. Raut wajahnya tampan tapi terlihat lelah, entah masalah apa yang sedang dihadapinya saat ini. Pemuda itu tak lain adalah Sri Baginda Maharaja Parameswara yang agung dimana dia dan keluarganya sejak ratusan tahun silam tinggal didalam istana yang besar berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu jati dan unglen beratapkan daun nipah dengan dikelilingi benteng yang juga terbuat dari kayu menghadap ke sungai Musi.
Dibelakang istana terdapatlah empat buah pendapa dan dikelilingi oleh parit-parit buatan sehingga pendapa-pendapa itu nampak seperti pulau-pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan-jembatan kayu, tempat dimana Raja dan permaisuri beserta dayang-dayang bisa beristirahat sambil berekreasi didalam lingkungan istana dan menikmati pemandangan alam yang indah. Disebelah timur istana terdapat benteng tanah yang mengelilingi beberapa bangunan panggung yang juga terbuat dari kayu dan merupakan rumah-rumah kediaman para mentri dan punggawa istana juga beberapa bangunan tempat tinggal para perwira dan kesatria disertai beberapa buah istal tempat kuda-kuda istana yang bagus bentuknya dirawat dan dipelihara, disebelah selatannya terdapatlah kanal buatan yang berukuran cukup lebar dan diseberang kanal kira-kira sejauh beberapa kilometer terdapatlah sebuah taman yang ditumbuhi banyak jenis pepohonan rindang dan menghasilkan banyak sekali buah-buahan yang ranum dan lezat rasanya. Taman itu dibuat oleh pendahulunya sekaligus nenek moyangnya yang agung dan mulia, banyak orang menyebut taman itu dengan sebutan Sriksetra dimana terdapat sebuah batu prasasti didalam taman tersebut yang dipahat oleh seorang seniman agung dimasa Sri Dapunta Hyan Sri Jayanasa masih berkuasa beberapa abad sebelumnya. Tapi orang-orang yang bermukim disana menyebut daerah sekitar taman itu dengan sebutan Talang Tuo dan lokasinya tidak begitu jauh dari Bukit Siguntang yang suci tempat berdiamnya para biksu dan pendeta Buddha dalam mempelajari ayat suci Tripitaka dan ajaran Sang Gautama.

Sri Baginda Parameswara masih duduk didalam pendapa kesukaannya sambil menatap sinar bulan purnama yang elok. Dia sedang memikirkan sesuatu yang mungkin berkenaan dengan perkataan Sang Mpu Sakti dalam penglihatannya akan situasi dimasa yang akan datang bersamaan dengan ramalannya yang mengerikan tentang konflik yang akan terjadi disertai ancaman yang datangnya dari sebuah kerajaan yang sedang mencapai jaman keemasannya disebelah timur pulau Jawadwipa. Dulu para pendahulunya juga mengalami hal yang sama ketika terjadi pemberontakan besar-besaran dari kerajaan Melayu-Dharmasraya yang dipimpin oleh Sri Tri Bhuwana Mauliwarmmadewa untuk melepaskan diri dari Negara Kedatuan Sriwijaya, sebuah pemberontakan yang menelan korban sangat banyak ketika kerajaan kecil disebelah barat pulau Swarnabhumi (Sumatera) itu mendapatkan bantuan moral, dana dan pasukan yang besar jumlahnya oleh kerajaan Singasari sebagai bagian dari ekspedisi Pamalayu pada tahun 1208 Saka atau tahun 1286 masehi untuk mengakui kedaulatan Sri Kertanegara sebagai raja dan setelah Sri Tri Bhuwana Mauliwarmmadewa berhasil memerdekakan kerajaan kecilnya itu maka dia memperoleh hadiah sebuah arca Amoghapasa dari Maharaja Sri Kertanegara sebagai perwujudan dirinya sendiri seakan penjelmaan seorang dewa yang mulia dan Sri Tri Bhuwana Mauliwarmmadewa mendapatkan gelar yang istimewa pula yaitu Sri Maharaja Srimat meskipun akhirnya dia pun menyadari bila dirinya tak lain hanyalah seorang raja boneka dari perpanjangan tangan kekuasaan Sri Kertanegara raja Singasari di Jawadwipa timur meskipun pada awalnya jalinan persahabatan dan persekutuan kedua kerajaan itu bermaksud untuk menggalang kekuatan politik dalam upaya mencegah serangan dari Kekaisaran Cina. Tapi berkat rahmat dari Sang Buddha Gautama dan Awalokiteswara maka Kedatuan Sriwijaya dapat bertahan. Peristiwa itu terjadi kurang lebih delapan puluh tahun yang lalu seperti yang sering diceritakan kembali oleh kakeknya. Sri Baginda merasa gelisah bila hal yang mengerikan itu akan terulang kembali dimasa yang akan datang sehingga dia sering mengadakan rapat dan berkonsolidasi dengan para menteri, para adipati dan bhupati-bhupati serta para demang kepercayaannya untuk tetap berupaya menjaga kedaulatan wilayah Negara Kedatuan Sriwijaya.
Seperti rapat yang baru saja selesai malam ini dan membuat Sri Baginda merasakan pening dan cemas begitu hebatnya. Dia mendengar perkataan salah seorang utusan yang baru saja kembali dari tanah Jawi, utusan itu berkata bila ada sebuah kerajaan baru yang kini sedang berkembang pesat disebelah timur tanah Jawi yang sejak beberapa puluh tahun yang lalu tetap melancarkan usaha untuk memperluas wilayahnya hingga ke seluruh kepulauan Nusantara mulai dari ujung timur hingga ke ujung barat Pulau Jawi tersebut. Utusan itu juga menyebutkan nama seorang Mahapatih yang sangat agung dan gagah perkasa yang menjadi otak perluasan wilayah itu dengan sumpahnya yang terkenal untuk menyatukan seluruh Nusantara termasuk wilayah Kedatuan Sriwijaya. Mahapatih itu bernama Gajah Mada yang digambarkan sebagai seorang tokoh besar dan berwibawa. Keinginannya yang sangat kuat untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara tetap dijalankannya dengan ulet dan kerja keras disertai disiplin yang tinggi. Tapi bukan itu yang membuat Sri Baginda cemas karena dia juga mendengar dari utusannya kalau Mahapatih Gajah Mada adalah seorang penganut agama Hindu yang taat dan mungkin pula Mahapatih Gajah Mada selain ingin menyatukan Nusantara juga ada kemungkinan untuk menyebarkan ajaran Hindu yang bertentangan dengan keyakinan Sri Baginda yang menganut ajaran Sang Buddha. Meskipun banyak juga rakyatnya yang masih menganut ajaran Hindu sebagai agama yang tertua di Nusantara dibeberapa daerah di wilayah Kedatuan Sriwijaya ini. Tapi Sri Baginda merasa berkewajiban untuk mempertahankan ajaran Sang Buddha di Kedatuannya. Tapi meskipun Mahapatih Gajah Mada telah wafat beberapa tahun yang lalu tapi tetap sangat berpengaruh dalam obsesinya menyatukan seluruh wilayah Nusantara yang kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Gajah Enggon. Gajah Enggon memiliki rupa dan wajah sangat mirip dengan ayahnya.
Sri Baginda berdoa, “Na mo amitovo…wahai Sang Buddha yang Maha Agung dan Mulia, dengan segala kerendahan hati dan pengabdian dari hamba yang penuh dosa dan salah ini hamba memanjatkan doa permohonan kepadaMu. Lindungilah Negeri Kedatuan Sriwijaya yang disinari oleh cahaya keagunganMu ini dari segala marabahaya dan bencana yang sewaktu-waktu bisa menimpa kami. Serta lindungilah negeri ini dari segala macam bentuk pembangkangan dan jauhkanlah negeri ini dari segala macam fitnah yang keji. Kiranya Engkau mendengar dan berkenan mengabulkan permohonan dari hamba yang hina ini…amitabha”
Setelah selesai berdoa Sri Baginda Parameswara menyilangkan kedua tangan didadanya sambil menelungkup setengah bersujud. Sri Baginda adalah seorang penganut agama Buddha yang taat dan saleh dalam mengamalkan ajaran-ajaran luhur keyakinannya. Dia sudah diajari agama oleh para biksu sejak dia masih kanak-kanak dan pernah pula dia menimba ilmu di Bukit Siguntang yang suci,mereka juga menanamkan budi pekerti dan norma-norma kesusilaan serta hukum-hukum agama kepada Sri Baginda. Kemudian pada usia dua belas tahun dia dinobatkan sebagai raja dengan gelar Datuk sebagai pemimpin sekaligus pelindung bagi kedatuan Sriwijaya.
Sri Baginda kemudian teringat pada masa ketika dia sedang dinobatkan dan ditahbiskan sebagai raja, semua menteri, adipati-adipati, para bhupati bahkan para demang ikut hadir dalam acara pentahbisan dirinya termasuk seorang Demang yang namanya begitu tersohor dalam sejarah yaitu Ki Demang Lebar Daun. Pada saat itu Sri Baginda begitu muda belia bahkan mulai memasuki masa remaja, memakai jubah kedatuan berwarna emas dengan mahkota bertatahkan intan permata. Demang Lebar Daun berkata, “Dengan Rahmat dan Kuasa Para Dewa Langit juga Dewa Awalokiteswara sebagai perwujudan kasih Sang Buddha Gautama maka kami selaku penasehat dari Kedatuan yang termahsyur ini dengan segala wewenang menobatkan dan menahbiskan Sang Yuvaraja putra mahkota sebagai raja dengan gelar yang kami berikan yakni, Srimat Sri Maharaja Datuk Diraja Parameswara agar kelak dapat menjadi pemimpin yang adil, jujur dan arif bijaksana. Diharapkan kepada Sri Baginda untuk menjalankan tiga persyaratan yaitu Samraj yang berdaulat sepenuhnya atas rakyat, Indratvam yang memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan pada rakyat dan Ekachattra sebagai payung atau pelindung agar rakyat damai sentosa. Semoga Kuasa dan Rahmat sang Buddha menyertainya. Na mo amitabha.” Setelah Demang Lebar daun berkata demikian maka para Biksu serempak membacakan mantra doa sambil membunyikan lonceng-lonceng kecil dari kuningan. Beberapa orang penasehat mendekati tubuh Sri Baginda yang masih muda belia itu sambil membawakan sebuah mahkota lalu menyerahkan mahkota itu kepada Demang Lebar Daun untuk selanjutnya diletakkan diatas kepala Sri Baginda Maharaja.
Ibu Suri Sri Baginda memperhatikan dengan tersenyum bahagia karena anaknya sudah menjadi raja. Begitu pula para menteri dan semua yang hadir pada saat upacara penobatan dirinya.
Sri Baginda terhenyak dari lamunannya ketika ada suara memanggil namanya,
“Kakanda! Sedang apa disana? Sendirian tiada yang menemani, apakah kakanda tidak takut sama hantu banyu?” Sri Baginda menoleh kesamping dan melihat sosok anggun dengan wajah cantik tiada bandingannya berjalan mendekati pendapa tempat Sri Baginda duduk bertapa. Sri Baginda mengenalinya meskipun sosok itu berjalan dibalik kegelapan malam, sosok wanita pujaan hatinya yang selalu mencintai dan mengasihinya.dengan sepenuh hati. Dialah sang permaisuri Sri Baginda dengan senyuman yang menawan. “Adindaku yang tersayang, mengapa dikau berjalan sendirian dalam kegelapan malam? Biarkan daku menikmati malam penuh sinar rembulan di pendapa ini, rindukah adinda kepadaku?” kata Sri Baginda dengan suara lembut. “Benar Kakanda, adinda sangat merindukan kehadiran kakanda didalam istana, sudah beberapa hari ini adinda perhatikan kakanda selalu berada didalam pendapa dan termenung sambil semedi mengharap petunjuk Sang Buddha. Adinda sangat kuatir akan keadaan kakanda yang nampak bingung senantiasa.” Jawab permaisuri sambil mendekati Sri Baginda dan duduk disampingnya. “Adindaku tersayang dan sangat kukasihi, kakanda hanya ingin mendamaikan hati dan pikiran karena beberapa hari ini selalu dihantui mimpi buruk tentang masa depan Kedatuan kita ini. Daku tidak bisa tidur ataupun memejamkan mata, selalu teringat akan perkataan para Mpu nan Sakti dan Ki Demang Lebar Daun yang mulia. Daku merasakan beban yang teramat berat sebagai pemegang amanat dan kepala Negara Kedatuan disamping daku hanyalah seorang manusia biasa. Semoga Sang Buddha Gautama dan Awalokiteswara Sang Maitreya berkenan memberikan petunjuk kepadaku dalam menjalankan tugas maha berat ini. Daku tidak tega mengorbankan rakyat banyak untuk dijadikan prajurit lalu mati dimedan pertempuran”
Permaisuri tersenyum sambil memandangi wajah suaminya dan berkata dengan suara yang lembut, “Kakanda yang sangat kukasihi dan kucintai dengan sepenuh hatiku, janganlah kuatir pada keadaan yang belum benar-benar akan terjadi karena hanya para dewa dan Sang Buddha Gautama yang maha mengetahui segala macam rahasia alam yang tersembunyi. Meskipun para Mpu nan Sakti dan para Demang sudah meramalkan kejadian di masa yang akan datang itu hanyalah suatu perkiraan saja dan belum tentu akan terjadi. Serahkan saja semuanya itu kepada para dewa dan Sang Buddha.” Sri Baginda tersenyum kepada permaisuri dan berkata, “Wahai adindaku tersayang, benarlah apa yang dikau katakan itu. Mungkin daku hanya lelah dan gemetar ketakutan meski daku sudah berupaya menyembunyikan rasa takut ini dengan kewibawaan sebagai seorang raja dan penerus dinasti Sanjaya dan Puyang tercinta Sri Dapunta Hyang Sri Jayanasa beserta Sri Maharaja Bala Puteradewa Yang Agung dan diberkati para dewa.”
Permaisuri mencium kening Sri Baginda dan berkata, “Kakanda yang terkasih…malam sudah semakin larut dan nampaknya sang dewi rembulan pun lelah memancarkan sinarNYA. Ia bersembunyi dibalik awan-awan, adinda inginkan kakanda pergi menemui para pendeta Biksu yang agung di Bukit Siguntang untuk memohon petunjuk dari Sang Buddha. Agar kakanda tidak lagi resah dan gelisah” Sri Baginda hanya memandangi wajah permaisuri yang sangat cantik memesona lalu berkata,
“Baiklah adindaku sayang, besok pagi kakanda akan pergi menemui para biksu sekaligus bersembahyang di Bukit Siguntang untuk memohon petunjuk dari para dewa dan Sang Buddha Gautama. Biarkan semuanya terjadi menurut kehendakNYA.”

Sementara itu jauh di Ilir tepian sungai Musi yang tenang ketika pasang sudah naik dan sungai nampak bercahaya dsinari oleh sinar rembulan, diperkampungan kecil yang sederhana dimana penduduknya sebagian besar adalah nelayan miskin, tak jauh dari situ ditepian kanal yang bermuara ke sungai Musi terdapatlah sebuah rumah panggung mungil kediaman keluarga Mahesa yang damai. Diruang tengah ibundanya sedang menjahit kain songket dengan bantuan alat tenun yang sangat sederhana, sedangkan ayahanda sedang menyiapkan jaring dan alat pancing untuk mencari ikan besok pagi. Sementara Mahesa duduk sendirian di beranda rumahnya diatas sebuah dipan kayu yang sudah reot, sambil melamunkan pertemuan dirinya dengan tiga dara cantik jelita putri seorang pejabat bhupati dari siang sampai menjelang sore hari tadi. Membayangkan wajah ketiga dara cantik itu dengan lamunannya yang indah. Tapi ada satu wajah yang dianggapnya paling cantik dan menawan dalam pikirannya, yaitu wajah Putri cempaka yang anggun dan langsing semampai. Mahesa selalu terbayang akan dirinya sampai ibundanya berkata, “Mahes, ngapo kau ngelamun cak wong gilo? Mending kau bantu bundo menenun kain songket ni buat dijual besok pagi. Hoi Mahes, cepatlah kau masuk kedalam jangan ngelamun diberando dewekan nanti dimakan hantu banyu.” Mahes tersentak dari lamunannya, “Iyo Bundo, kagek sebentar lagi aku masuk kedalam dan bantu bundo menenun kain songket.”
Ayahanda berkata, “Apo yang sedang kau lamunkan tuh? Jadi pemudo janganlah banyak ngelamun. Bekerja lebih baik daripada ngelamun.” Dengan malas Mahes menjawab, “Ayahanda….bukannyo aku idak galak bekerjo…aku sedang istirahat. Lagipulo aku dah kerjo seharian ni. Ngapo pulo aku disuruh kerjo lagi?” Ibunda berkata, “Mahes, janganlah kau bercakap cak itu ke ayahandamu…dio tuh wong tuomu…kalo dio marah pacak dio pukul kepalamu itu biar tambah pinter…selamo kau masih sayang samo dio…turutilah apo yang dio kataken…” Ayahanda menimpali sambil menggerutu,“Mahes, kalo wong tuo sudah ngomong baik-baik maka dengarkanlah. Apo yang bundo kataken itu benar galo-galonyo. Lagipulo apo yang sedang kau pikirkan tuh? Macak-macak kau nih…” Mahes dengan langkah malas masuk kedalam rumah sambil berkata, “Iyo ayah dan bundo…maafkanlah anakmu ini. Aku lah bikin kesal wong tuo, semoga Sang Awalokiteswara berkenan mengampuni aku sebagai anak tak berbakti. Apo yang pacak kulakuken bundo?” Ibunda berkata sambil menyodorkan benang dan bahan kain setengah jadi untuk ditenun, “Cobolah kau bantu terusken tenunan ini, bundo nak istirahat dulu karena lelah seharian ni menenun kain songket buat dijual ke pasar terapung besok pagi.” Mahes mengambil benang dan bahan kain itu lalu memasangkannya ke alat tenun sambil menggerutu dalam hati, “Macak-macak pulo bundo ni, masa’ aku disuruhnyo menenun kain cak gadis belia.” Ternyata gerutuan Mahesa terdengar oleh ayahandanya lalu berkata, “Hoooi Mahes, apo yang sedang kau gerutuken itu? Idak malu kau samo Dewata? Dio itu bundo yang telah mengandung dan melahirken kau ke bumi ini dengan susah payah. Begini kau balas jasonyo? Sekarang galak idak kalo kupukul kepala kau pakai sapu?” Mahesa gemetar ketakutan mendengar perkataan ayahandanya karena sejak kecil dia memang takut kena pukul pakai sapu apabila berbuat nakal.
“Ampun ayahanda, aku lah siap untuk menenun bahan kain ini. Maafkan aku bundo, idak sekali-kali aku membantah perkataan bundo lagi.”
Setelah itu Mahesa menenun kain songket dengan bantuan alat tenun sangat sederhana berukuran kecil dan terbuat dari kayu yang sudah mulai reot dimakan rayap tidak seperti yang dimiliki oleh para penenun pada umumnya, sebuah alat tenun kain songket yang hanya bisa menenun satu atau dua buah kain songket dalam waktu beberapa hari. Dengan hati yang sabar dia memasangkan benang dan mulai memintal dengan sangat hati-hati kemudian menenun bahan kain songket itu hingga pagi menjelang. Kedua orang tuanya sudah tertidur lelap karena lelah. Sesekali Mahesa memandangi wajah kedua orang tuanya dengan rasa kasih. Dia merasa kasihan kepada kedua orang tuanya itu karena merekalah yang merawat dan memberikan kasih sayang kepadanya sejak lahir. Wajah kedua orang tuanya sangat polos, raut-raut wajah yang menyiratkan perjuangan yang gigih dalam menyambung hidup. Mahesa terus memintal dan menenun bahan kain songket itu hingga mulai menjadi bentuk kain songket yang indah dengan benang-benang berwarna emas tapi bukan terbuat dari emas. Dia menenun sambil membayangkan kecantikan wajah Putri Cempaka, wajah yang sangat cantik, bersih dan memancarkan sinar kedewian begitu menurut anggapan Mahesa dalam lamunannya. Tapi meskipun dia sambil melamun tapi kedua tangannya masih tetap aktif memintal dan menenun bahan kain songket dialat tenunan itu. Sungguh luar biasa dia bisa melakukan hal menakjubkan itu, dia terus menenun kain songket tanpa kesalahan satu kali pun. Dalam hatinya dia ingin cepat menyelesaikan kain songket ini dan berharap bisa menjualnya di pasar terapung dengan harga yang pantas. Sebuah kain songket berwarna merah darah dengan aluran benang berwarna emas sebagai penghias dengan motif bunga dan dedaunan. Dia pun membayangkan wajah cantik Putri Cempaka diatas kain songket yang sedang ditenunnya itu, seolah dia hadir menemani, memberikan kesejukan dalam hatinya.
Beberapa saat menjelang pagi, Mahesa tertegun dan memandangi kain songket yang sudah selesai ditenunnya itu hatinya merasa bangga. Segera dia melepaskan kain songket yang telah jadi itu dari alat tenunan kemudian melipatnya dengan rapih. Lalu dia pergi mandi ke sungai membasuh wajahnya dengan air sungai dan membersihkan dirinya yang bau dan kumal, setelah itu dia membangunkan kedua orang tuanya untuk bersiap-siap pergi berdagang ke pasar terapung dan mencari ikan di sepanjang sungai hingga ke muara. Kedua orang tuanya juga bergegas mandi ditepian kanal dekat ke sungai Musi, mereka berdoa kepada para dewa agar diberikan keberkahan dan keberhasilan dalam berdagang dan mencari ikan nanti. Mahesa yang sudah lebih dulu mandi sedang menyiapkan perlengkapan juga peralatan untuk pergi berdagang dan mencari ikan, hatinya berharap dapat berjumpa kembali dengan tiga putri cantik terutama dengan Putri Cempaka. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih dari dalam lemari kayunya yang mungkin tidak bisa dianggap lagi sebagai lemari karena sudah tua dan lapuk. Mahesa berdiri didepan cermin kusam yang sudah retak sambil memandangi wajah dan dirinya sendiri, dia tersenyum karena menyadari ternyata wajahnya cukup tampan menurut anggapannya. Cermin dikamarnya itu dia dapatkan dari seorang pedagang asing yang berasal dari negeri Timur tengah yang sangat jauh. Dia bersyukur mendapatkan cermin itu meskipun sudah retak akibat pernah terjatuh secara tidak sengaja pada saat dia hendak membawa pulang cermin itu kerumahnya, tapi untunglah tidak pecah.

Chapter 4

Siguntang Hill

(Bukit Siguntang)

Bukit Siguntang, June 18, 1375. A.D

Sriwijaya Kingdom

After dark…

Menjelang terbitnya matahari…alam masih separuh gelap dan semburat warna jingga perlahan mulai nampak tanda akan terbitnya sang surya. Sebuah rombongan kecil terbagi dalam dua perahu sedang melaju cepat menuju kearah Bukit Siguntang yang suci. Dalam rombongan yang terdiri dari prajurit pengawal istana tersebut nampaklah sesosok pemuda sangat tampan yang tak lain adalah Sri Baginda yang menyamar sebagai salah seorang prajurit pengawal istana, dia ikut mendayung perahu bersama. Sri Baginda berpakaian seperti para prajurit yang lain dengan membawa pedang dan tameng juga tombak pendek sebagai senjata perlindungan selama perjalanan. Rambutnya sengaja tidak digelung keatas sehingga bebas tergerai panjang sebatas bahu. Dadanya kekar dan perutnya rata dengan enam lipatan menunjukkan dia seorang yang rajin berlatih ilmu kanuragan.  Lengannya hingga pergelangan tangannya memakai gelang-gelang terbuat dari perunggu sama persis seperti yang dipakai oleh para prajurit lainnya.

Mereka mendayung perahu dengan cepat agar segera sampai di Bukit Siguntang yang suci. Sri Baginda dan para pengawalnya tergesa-gesa dalam mendayung perahu. Dua perahu itu melaju dengan cepat hingga melewati pos-pos penjagaan tentara laut yang tersebar diseluruh cabang sungai Musi. Para penjaga pos itu tidak tahu kalau Sri Baginda dan para pengawal sudah melewati pos penjagaan mereka, dianggapnya sebagai patroli pasukan biasa yang memang setiap beberapa jam sekali datang atau lewat saja sekedar menjaga keamanan sungai. Kedua perahu itu terus melaju kearah kanal dan melewati perkampungan kecil dimana Mahesa dan keluarganya tinggal, sementara itu Mahesa dan ayahandanya sedang menyiapkan perlengkapan dan barang-barang dagangan untuk dijual di pasar pagi terapung. Dia tidak melihat Sri Baginda dan para pengawalnya sedang melaju dengan dua buah perahu melewati kanal tempat tinggal mereka. Mahesa hanya melihat sosok-sosok prajurit yang kekar dan gagah perkasa sedang mendayungi perahu mereka menuju kearah Bukit Siguntang, tapi dia sempat melihat sosok pemuda tampan berambut panjang sebahu yang sedikit berbeda dengan prajurit yang lainnya, Mahesa berkata, “Hey….ayahanda coba jingok pemuda itu…wajahnyo mirip nian dengan Sri Bagindo Datuk Parameswara.” Ayahanda menengok kesamping melihat kearah pemuda tampan yang sedang mendayung perahu itu dan berkata, “Mano? Hey Mahes! Janganlah bercando, mano mungkin Sri Bagindo mendayung perahu cak itu bersamo prajurit biaso. Pemudo itu hanyo prajurit bukan Sri Bagindo! Macak-macak kau ini!” Mahesa berkata, ‘Tapi ngapo wajah pemudo itu mirip nian samo Sri Bagindo? Cobolah ayah jingok sekali lagi”

Ayahanda menengok sekali lagi kearah pemuda tampan yang semakin lama semakin menjauh, dia memperhatikan dengan raut wajah dan kening sedikit berkerut lalu berkata, “Sudah aku bilang kalo dio tuh bukan Sri Bagindo, mungkin wae dio hanyo seorang perwira atau tamtama yang wajahnyo mirip Sri Bagindo. Tapi bukan berarti pemudo itu Sri Bagindo Datuk Parameswara. Sudahlah Mahes, jangan macak-macak. Payo bantu angkut barang-barang ini kedalam perahu, kagek sebentar lagi kito melaju ke pasar terapung. Matahari sudah mulai meninggi” Mahesa menjawab, “Iyo ayah. Aku nak ngambek kain songket yang sudah selesai kutenun semalam. Tidaklah payah membuat kain songket ternyato.” Ayahanda berkata sambil mengernyitkan dahi, “Benarkah kain songket itu kau yang buat? Aku idak percayo ucapan kau tuh.” Mahesa tertawa dan berkata, “Hahahaha…ngapo ayah idak percayo? Inilah buktinyo, aku dewek yang selesaiken tenunan kain ini. Dari malam sampai pagi.” Ayahanda menyuruh Mahesa mengambil bakul-bakul, kemudian Mahesa masuk kedalam bilik kamarnya yang lusuh dan mengambil sehelai kain songket yang telah dibuat dan diselesaikannya semalam. Dia memperlihatkan kain songket itu kepada ayahanda dan berkata, ”Nah, ini dio kain songket yang sudah aku buat semalam, apo ayah masih idak percayo?” Ayahanda melihat kain songket itu dan memperhatikannya dengan seksama, lalu berkata ; ”Mahes…kamu benar. Tapi ayah masih sangsi….karena ayah tahu kalo yang mulai menenun kain songket ini adalah bundo, kamu hanyo melanjutken bae…benarkan?” Mahesa tertunduk malu dan berkata, ” Benar Ayah…” lalu dia masuk kedalam perahu dan tidak berkata apa-apa lagi…

Sementara itu Sri Baginda dan para pengawal sudah mendekati Bukit Siguntang yang suci, bukit itu nampak dari kejauhan dengan rimbunnya pepohonan dan sebuah Pagoda yang menjulang tinggi kelangit dengan sembilan lantai yang merupakan lambang menuju ke Nirwana. Sri Baginda dengan dibantu para pengawal merapatkan dan menambatkan perahunya ditepian kanal didepan pintu gerbang Wihara Bukit Siguntang yang suci itu. Kemudian dia dan para pengawal turun dari perahu berjalan kaki meuju gerbang Wihara lalu membunyikan genta perunggu dengan sebuah tongkat kecil didepan gerbang. Tak lama kemudian datanglah beberapa biksu muda menghampiri mereka dan mengucapkan salam. ”Swastee…salam damai sejahtera bersama Sang Buddha. Selamat datang di Bukit Siguntang yang suci. Na mo Amitabha… ada perlu apakah kisanak datang kesini?” sahut seorang biksu muda sambil membungkukkan tubuhnya dihadapan Sri Baginda, para biksu muda itu tidak mengenali Sri Baginda karena dia sudah menyamar. ”Kami ingin bertemu dengan Pendeta Agung Trigosa Vidyadharma Jaya Laksana, karena ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan.” kata Sri Baginda dengan nada suara yang sopan. ”Oh…bila benar begitu maka silahkan masuk. Sang pendeta agung Trigosa sedang bersemedi diruang aula Wihara bersama para tetua yang kami muliakan. Silahkan…” para biksu muda dengan sigap membuka semua penghalang pintu gerbang yang besar itu dan mempersilahkan rombongan Sri Baginda masuk kedalam Wihara.

Sepuluh wajah

Wajah pertama : menampakkan kebaikan dan ketulusan…
Wajah kedua : menampakkan kesungguhan dalam cinta…
Wajah ketiga : menampakkan hasrat…
Wajah keempat : menampakkan gejolak emosi…
Wajah kelima : menampakkan kesedihan…
Wajah keenam : menampakkan kegelisahan…
Wajah ketujuh : menampakkan kemarahan…
Wajah kedelapan : menampakkan kebahagiaan…
Wajah kesembilan : menampakkan nafsu angkara…
Wajah kesepuluh : menampakkan sembilan wajah yang lain…

Sepuluh wajah bersaput topeng…

Air api

Buih…mendidih…gelegak…meregak…panas..dingin..beku…salju…api…membakar…hangus…jiwa meronta…hati meringis…menahan pedihnya air api…

http://www.exvortex.com/?exv=lordahmad

Apakah anda sedang pusing mencari pekerjaan? Maka kami sarankan kepada anda untuk bergabung bersama kami di bisnis online Exvortex dan semoga mendapatkan keuntungan.

http://www.komisiGRATIS.com/?id=chalifah

Ayo bergabung bersama kami di Komisi Gratis dan dapatkan keuntungan secara online.

http://www.komisiGRATIS.com/?id=chalifah

Ayo bergabung bersama kami di Komisi Gratis dan dapatkan keuntungan secara online.

Rumah Web

Apakah anda sedang mencari Host atau domain yang murah, cepat dan aman? Maka saya saya sarankan kepada anda untuk mengklik link ini : http://www.rumahweb.com/idev/idevaffiliate.php?id=2939